Kontemplasi [1]
Bismillah.
Kemarin sempat terpikir tentang jalan juang.
Rasanya ga nyangka aja sudah di fase ini. Dengan amanah, peran dan segala macam karunia yg Allah beri.
Ada banyak hal yg aku coba renungkan.
Pertama, tentang 'sesuatu yg aku cari". Dengan peran, karir yg aku jalani ini "apasih sebenarnya" hal esensial yg aku anggap penting dan perlu aku kejar?
Ini menjadi perhatian besar ku beberapa hari ini. Setelah melewati dinamika sosial. Setelah bertemu dengan berbagai macam jenis manusia.
Aku kembali disadarkan pada suatu kenyataan. Bahwa yg perlu kita terus perkuat itu adalah fondasi dalam diri kita. Terus belajar. Hadapi sesuatu yg membutmu tidak maju. Karena pada akhirnya, saat eksternal kita berubah-rubah. Jiwa kita tetap tenang. Pikiran kita tetap jernih. Dan kita kokoh untuk bertahan menggapai apa yg kita sejak awal dituju dalam perjalanan ini.
Rido, Allah.
Ini cukup menjadi muara segalanya. Mencari rido Allah dengan segala yg kita jalani. Hadapi. Lewati.
Tidak penting lagi bagaimana manusia memandang kita. Yg lebih penting adalah bagaimana kita mau memurnikan jiwa kita. Hati kita agar terus terkoneksi dengan Ilahi agar mendapat keselamatan dan ketenangan hidup di dunia dan akhirat.
Kedua, kita adalah bagian terpenting dalam perjalanan ini. Self love and love the others.
Suatu kenyataan penting yg kembali teringat bahwa yg akan selalu bersama diri kita adalah diri kita sendiri (setelah Allah beserta para malaikatnya). Diri kita ini adalah makhluk yg tetap akan stand by dengan kita. Mau bagaimanapun orang pada diri kita, kalau kita sudah cinta, sayang, perhatian, hormat, perduli pada diri kita. Maka kita tidak lagi haus hal-hal tersebut pada diri orag lain. Menunggu orang memberi cinta, sayang, perhatian, hormat, dan keperdulian adalah hal BODOH dan menghinakan dalam hidup ini. Meski, kadang kita ada juga mengharapkannya dan merasa jengkel apabila tak menerimanya.
Tapi kita harus mulai peduli, bahwa kitalah yg tidak akan meninggalkan diri kita. Maafkan semua kesalahan diri. Cintai apa yg ada dalam diri. Hormati setiap keunikan dalam diri. Dan tentunya, nilai kita adalah berharga dan istimewa. Ini tanpa perlu diperoleh dari pengakuan orang lain, melainkan dari bagaimana cara kita melihat diri kita sebagai individu yg punya potensi dan keistimewaan dari Allah.......
Aku mulai sadar ini. Selama ini aku merasa aku tidak layak untuk segala hal baik. Dan ini berujung pada sikapku yg jauh dari kata perduli pada diriku.
Intinya. Aku harus bisa nyaman dulu sama cara aku bicara dengan diriku. Aku harus bisa nyama dulu sama apa yg aku pakai, pikirkan dan jalani. Aku harus bisa lebih aware bahwa diriku sepenting itu saat ini untuk diperhatikan dan diberi cinta sayang oleh diriku sendiri.
Bukan egois, tapi merawat anugerah Allah pada diri yg terbaik ini dengan affiyahNya. ya Allah tolong beri taufik dan pertolonganMu pada segala aspek hidup hamba. Aamiin Yaa Mujiib.
5 Ramadan, 22 Februari 2025 07.01
Komentar
Posting Komentar